Cinta yang Perlu Diusahakan

Photo by Juliane Liebermann on Unsplash


Beberapa tahun lalu, gue menemukan tulisan Gita Savitri Devi di blognya mengenai hubungan dia yang complicated dengan ibunya. Judulnya "Balada Seorang Anak". Iya, ini Gitasav, influencer yang kontroversial itu — tapi jujur, I like her, hehe. Gue lupa ya itu tulisan tahun berapa, tapi kalau zaman Gitasav masih nulis di blog sih harusnya udah lama banget ya.

Honestly, gue cukup ngikutin tulisan dia jauh sebelum dia jadi influencer sampai akhirnya dia memutuskan untuk hidup low-key, not in the spotlight lagi (good for her). Gue suka karena dia pinter banget dan punya gagasan-gagasan yang berani, alias gacor bener ini cewek. Pemikirannya nggak main-main, loh. Anyway, balik ke tulisan dia tentang hubungan orang tua dan anak itu, gue belakangan nyari tulisan itu susah banget, entah karena blognya udah inactive atau dihapus, entahlah. Tapi intinya, tulisan itu sangat membekas di benak gue sampai sekarang.

Mungkin sejak gue baca tulisan itu (mungkin juga engga, sih) gue jadi mulai merefleksikan hubungan gue dengan kedua orang tua gue yang juga complicated. Dulu pas masih kecil, pastinya kita bergantung pada segala macam hal pada kedua orang tua kita, kan. Ngga cuma bergantung, but we look up to them too, sebagai sumber segala-galanya buat kita.

Lalu beranjak dewasa, kita mulai mikir, "Kok orang tua gue melakukan hal ini dan hal itu, ya?" Kok mereka ngambil keputusan kayak gitu ya?" dan berbagai hal lain yang membuat kita tentunya melihat orang tua kita sebagai manusia biasa juga, yang tidak luput dari kesalahan-kesalahan, yang masih banyak ngga tahunya, dan untuk pertama kalinya, kita mungkin melihat orang tua kita dengan kacamata lain.

Gue nulis ini bukan karena gue tiba-tiba kepikiran menghakimi kedua orang tua gue ya (yah, jujur sedikit iya sih), tapi mungkin karena sekarang gue udah jadi orang dewasa beneran, gue mulai melihat mereka ngga hanya sebagai orang tua, tapi sebagai pribadi lain di dunia ini (sebelum jadi orang tua gue).

Jujur, sama seperti Gitasav, hubungan gue dengan kedua orang tua gue juga cenderung complicated. Banyak hal dari dalam diri gue sekarang adalah buah dari hasil didikan orang tua gue dan cara gue dibesarkan. Kadang, gue bisa terdengar seperti bokap gue kalau lagi cerita atau kalau lagi marah (hal yang sebenarnya sangat gue benci dan tidak gue inginkan).

Salah satu hal yang menempel di diri gue mungkin adalah cara gue bersih-bersih atau merapikan sesuatu. FYI, bokap gue orangnya bersih dan rapi banget, sampe-sampe gue dulu sering merasa dia OCD. Bayangin aja, dia kalo nyimpen sesuatu itu bisa berdasarkan warna, diurutin dari warna yang paling gelap ke terang atau sebaliknya. Lalu rumah tiap hari itu harus bersih. Nyokap gue adalah yang paling capek soal ini, karena dapur itu ngga boleh kotor. Cucian piring harus langsung dicuci, bukan dibiarin numpuk dan besok pagi baru dicuci -- that's a big no-no.

Sekarang, ketika gue tinggal sendiri, hal-hal kayak gitu sedikit banyak kebawa di gue tanpa gue sadari. Kadang gue suka merasa lelah sendiri bersih-bersih, apalagi cuci piring. Tapi kalau piring ngga dicuci, bawaannya kesel sendiri, seolah-olah akan ada yang 'memarahi' karena apartemen gue ngga bersih, padahal ngga ada juga.

Tunangan gue adalah salah satu orang pertama di luar keluarga gue yang menyadari kebiasaan aneh bersih-bersih gue yang suka random. Ada nasi satu butir di lantai aja gue bisa liat. Dia sampe kaget.

Banyak hal di dalam rumah selama gue tumbuh dewasa yang pastinya memengaruhi cara berpikir dan bertindak gue saat ini. Salah satu hal yang bikin kaget mungkin melihat bahwa orang tua kita juga bisa salah, atau ternyata mereka tidak sesempurna yang kita lihat, dan bahwa mereka juga pernah membuat keputusan-keputusan dalam hidup yang di luar nalar.

Hubungan gue dengan kedua orang tua gue yang complicated ini bikin gue sering mikir, bagaimana kalau gue jadi orang tua? Apakah anak gue akan membenci gue karena keputusan-keputusan yang gue ambil atau karena gue tidak mengambilnya? Apakah gue akan menyakiti hati mereka ketika gue marah? Apakah gue akan sakit hati karena omongan anak gue?

Gue sampe pergi ke psikolog karena overthinking itu, dan ketika gue sampaikan, psikolog gue cuma bilang gue mikirnya kejauhan untuk sesuatu yang belum terjadi. Tapi dia bisa memahami kenapa gue punya semua pemikiran itu di dalam kepala gue. Kayak, gue sendiri bingung dengan dinamika hubungan orang tua-anak ini, gimana gue bisa provide agar anak-anak gue cinta dan tidak membuat mereka trauma?

Don't get me wrong, I love my parents, I love them. Tapi gue juga mulai memahami bahwa sama seperti tidak ada anak yang sempurna, tidak ada juga orang tua yang sempurna. Di usia 31 tahun ini dan ketika gue sudah mau menikah, gue merasa akhirnya gue bisa menerima seperti apa orang tua gue seutuhnya. Bahwa dengan segala sumber daya yang mereka punya saat itu, mereka berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Belum ada buku panduan parenting, apalagi psikolog/psikiater, ataupun tips-tips dari influencer tentang cara merawat anak atau menjadi orang tua. Tanpa semua itu, mereka udah mencoba memberikan yang terbaik.

Gue sering bilang sama tunangan gue, gue nggak tahu apakah gue akan bisa memaafkan kedua orang tua gue atas berbagai hal. Tapi dilihat lagi dari kacamata hari ini, mereka juga pernah jadi remaja dan orang muda yang mengambil keputusan buruk dalam hidup mereka. Gue membayangkan bokap dan nyokap gue adalah dua anak muda itu, dan apa jadinya kalau mereka lebih bijak dikit dalam bertindak? 

Kadang gue membayangkan nyokap atau bokap gue yang masih muda, ambisius, punya banyak mimpi—gue rela kasih apa pun di dunia ini asal mereka bisa mengalami masa muda mereka sekali lagi, memberi mereka kesempatan untuk ambil keputusan apa pun dalam hidup, termasuk tidak menikah. Meskipun kalau mereka memilih itu, gue ngga bakal ada di dunia ini, tapi kadang gue pengen bayangin aja. Membayangkan hidup mereka yang mungkin berbeda kalau mereka mengambil jalan lain.

Tapi di atas semuanya itu, di atas hal-hal yang membuat gue sebagai anak kecewa berat dengan mereka, mereka tetap memilih jadi orang tua gue. Gue tetap diurus, disekolahkan, diberi atap tempat tinggal, dicintai — dengan cara mereka sendiri.

Mungkin ketika nanti gue sudah jadi orang tua, gue akan paham (mungkin juga enggak) kenapa mereka melakukan atau tidak melakukan hal-hal yang gue pertanyakan. Mungkin di saat itu gue sudah bisa memaafkan kedua orang tua gue. Mungkin gue ngga bisa memahami sekarang, tapi satu yang gue tahu adalah bahwa mereka mengorbankan masa muda mereka supaya masa muda gue lebih layak. I'm forever thankful for it.

Comments

Popular Posts